TB Hasanuddin: Pro Kontra Nonton Film Jangan Memperlemah Persatuan dan Kesatuan Bangsa

TB Hasanuddin: Pro Kontra Nonton Film Jangan Memperlemah Persatuan dan Kesatuan Bangsa

admin September 26, 2020

Anggota Komisi I DPR RI Mayjen TNI (purn) TB Hasanuddin mengimbau masyarakat tak perlu resah soal pemutaran film 'Pengkhianatan G30S/PKI' di televisi atau di tempat lain. Politikus PDI Perjuagan (PDIP) ini mempersilakan masyarakat untuk menyaksikan atau pun tidak menyaksikannya. "Kalau nanti film 'Pengkhianatan G30S/PKI' itu diputar di televisi ya terserah masyarakat mau nonton atau tidak , jangan dipermasalahkan. Ini kan negara demokrasi," kata Hasanuddin kepada wartawan, Sabtu (26/9/2020).

Hasanuddin menambahkan, di Indonesia sudah ada lembaga yang mengawasi soal pemutaran film di televisi. "Kalau film itu ditayangkan di televisi, disamping ada LSF (Lembaga Sensor Film ) yang menyensor, juga ada Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) yang mengawasinya. Kedua lembaga ini sah berdasarkan Undang Undang," ujarnya. Menurut dia, urusan materi film apapun, termasuk film Pengkhianatan G30S/PKI, di Indonesia telah memiliki perangkat aturan perundang undangannya.

Jika bebicara film, kata dia, ada lembaga sensor film. "Soal materi film, lembaga sensor film yang memiliki wewenang apakah layak tayang atau tidak. Biarlah mereka yang menilai, kita percayakan pada mereka karena itu lembaga yang sah dan dilindungi Undang Undang," ucapnya. Ia menegaskan, ada hal yang lebih penting dibandingkan memperdebatkan soal nonton atau tidak nonton film Pengkhianatan G30S/PKI.

Apalagi, kata Hasanuddin, setiap tahun menjelang tanggal 30 September maka isu isu soal komunis kembali menghangat. Oleh karena itu, Hasanuddin mengajak untuk tetap menjaga persatuan dan kesatuan demi tetap tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). "Masyarakat tidak usah terlalu meributkan rencana pemutaran film G30S/PKI ini. Karena masih banyak permasalahan bangsa seperti pandemi covid 19 yang harus dipikirkan dan dicarikan solusi bersama. Mari kita tetap jaga persatuan dan kesatuan," ujarnya.

Seperti diketahui Film "Pengkhianatan G30S/PKI" hingga saat ini masih menjadi kontroversi lantaran sejarah peristiwa Gerakan 30 September 1965 belum terkuak sepenuhnya. Film yang diproduksi Perum Perusahaan Film Negara (PPFN) pada 1984 ini kerap disebut sebagai propaganda ala rezim Orde Baru pimpinan Presiden Soeharto kala itu. Di zaman pemerintahan Soeharto, film yang disutradarai oleh Arifin C. Noer ini rutin diputar setiap tahun dan dihentikan setelah pemerintah Orde Baru tumbang akibat gelombang Reformasi 1998.

Namun, beberapa tahun belakangan, beberapa pihak, bahkan pejabat negara dan stasiun televisi, kembali memutarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.